Rabu, 23 November 2011

catatan kuliah tentang perilaku manusia


TENTANG PERILAKU MANUSIA
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MANUSIA
Ada dua macam psikologi sosial.
1.Psikologi sosial dengan huruf P besar
2.psikologi sosial dengan huruf S besar
Kedua pendekatan ini menekankan faktor-faktor psikologis dan faktor-faktor sosial. Atau dengan istilah lain faktor-faktor yang timbul dari dalam individu (faktor personal),dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar individu (faktor environmental).
McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia.
Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar terdapat dua faktor.

Faktor Biologis
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia. Pentingnya kita memperhatikan pengaruh biologis terhadap perilaku manusia seperti tampak dalam dua hal berikut.
1. Telah diakui secara meluas adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, dan bukan perngaruh lingkungan atau situasi.
2. diakui pula adanya faktor-faktor biologis yang mendorong perilaku manusia, yang lazim disebut sebagai motif biologis. Yang paling penting dari motif biologis adalah kebutuhan makan-minum dan istirahat, kebutuhan seksual, dan kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya.
Faktor Sosiopsikologis
Kita dapat mengkalsifikasikannya ke dalam tiga komponen.
Komponen Afektif
merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya.
Komponen Kognitif
Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
Komponen Konatif
Aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

B. Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu
1. Pendekatan neurobiologis
Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiologis berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat dengan impuls listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari perilaku dan proses mental.

2. Pendekatan perilaku
Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S - R atau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.

3.Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

4.Pendekatan psikoanalisa
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

5.Pendekatan fenomenologi
Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

6. Psikologi Humanistik

Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga “ dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.
Faktor-faktor Situsional
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor situasional. Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi. Faktor-faktor situasional ini berupa
·         faktor ekologis, misal kondisi alam atau iklim
·         faktor rancangan dan arsitektural, misal penataan ruang
·         faktor temporal, misal keadaan emosi
·         suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara
·         teknologi
·         faktor sosial, mencakup sistem peran, struktur sosial dan karakteristik sosial individu
·         lingkungan psikososial yaitu persepsi seseorang terhadap lingkungannya
·         stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku
SUMBER :




 


Senin, 21 November 2011

Catatan Kuliah Atraksi dalam Komunikasi Interpersonal dan Hubungan Interpersonal


Atraksi dalam Komunikasi Interpersonal
 
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Adanya daya tarik ini membentuk rasa suka. Rasa suka pada seseorang umumnya membuat orang yang kita sukai menjadi signifikan bagi kita. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik seseorang dengan orang lain adalah (1) faktor-faktor personal, meliputi: a) kesamaan karakteristik personal; cognitive consistency theory dari Fritz Heider mengemukakan bahwa orang cenderung memiliki sikap yang sama dengan orang yang disukai; b) tekanan emosional (stress), c) harga diri yang rendah, d) isolasi sosial. (2) faktor-faktor situasional, dapat berupa: a) daya tarik fisik, b) ganjaran (reward), c) familiarity, d) kedekatan (clonseness), e) kemampuan.
Dalam hubungan dengan atraksi interpersonal ini ada 4 (empat) teori “liking” yang menjelaskan (1) Reinforcement theory menjelaskan bahwa seseorang menyukai orang lain adalah sebagai hasil belajar. (2) Equity theory menyatakan bahwa dalam suatu hubungan, manusia selalu cenderung menjaga keseimbangan antara harga (cost) yang dikeluarkan dengan ganjaran (reward) yang diperoleh. (3) Exchange theory berpendapat bahwa interaksi sosial diibaratkan sebagai transaksi dagang. Jika orang kenal pada seseorang yang mendatangkan keuntungan ekonomis dan psikologis, akan lebih disukai. (4) Gain-loss theory berpendapat bahwa orang cenderung lebih menyukai orang-orang yang menguntungkan bagi kita dan kurang tertarik pada orang-orang yang merugikan kita.
Dalam komunikasi interpersonal, daya tarik seseorang sangat penting. Kalau kita menyukai seseorang, akan cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengannya, positif. Sebaliknya, kalau kita tidak menyukainya, kita akan melihat segalanya secara negatif. Dengan demikian bisa dimengerti orang yang memiliki daya tarik bagi orang lain akan mempermudah pendapat dan sikapnya pada orang tersebut demikian sebaliknya. Jika orang saling menyukai ia akan mengembangkan komunikasi yang menyenangkan dan efektif. Orang akan merasa senang dan nyaman jika berada di antara orang-orang yang disukai. Sebaliknya akan merasa tegang dan resah bila berada di antara orang-orang yang tidak disukai serta ingin mengakhirinya.

Hubungan Interpersonal
 
Hakikat dari hubungan interpersonal adalah bahwa ketika berkomunikasi, kita bukan hanya menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Jadi, kita bukan sekedar menentukan content tetapi juga relationship. Pandangan ini merupakan hal baru dan untuk menunjukkan hubungan pesan komunikan ini disebut sebagai metakomunikasi.
Dalam hal ini berarti bahwa studi komunikasi interpersonal bergeser dari isi pesan kepada aspek relasional. Aspek relasional inilah yang menjadi unit analisis dari komunikasi interpersonal. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya sehingga makin efektif komunikasi itu berlangsung.
Hubungan interpersonal terbentuk ketika proses pengolahan pesan, (baik verbal maupun nonverbal) secara timbal balik terjadi dan hal ini dinamakan komunikasi interpersonal. Ketika hubungan interpersonal interpersonal tumbuh, terjadi pula kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara para partisipan yang terlibat.
Hubungan interpersonal dapat diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor:
1) Jumlah individu yang terlibat yaitu hubungan diad dan hubungan triad. Hubungan diad adalah hubungan antara dua individu. William Wimot mengemukakan ciri-ciri hubungan interpersonal diad, antara lain adanya tujuan khusus, adanya fungsi yang berbeda, memiliki pola komunikasi yang khas.
Hubungan triad adalah hubungan interpersonal antara tiga orang. Dibandingkan dengan hubungan diad, hubungan ini lebih kompleks, tingkat keintiman rendah dan keputusan yang diambil berdasarkan voting.
1.     Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, adalah hubungan tugas (task relationship) dan hubungan sosial (social relationship).
2.    Berdasarkan jangka waktu: hubungan jangka pendek dan hubungan jangka panjang.
3.    Berdasarkan tingkat kedalaman/keintiman: hubungan akrab/intim.
Ruben mengemukakan tahap-tahap hubungan interpersonal, yaitu:
1.     inisiasi;
2.    eksplorasi;
3.    intensifikasi;
4.    formalisasi;
5.    redefinisi;
6.   deteriorasi. Dalam kenyataannya, hubungan itu tidak selalu berjalan selaras dan bertahap seperti tersebut di atas, tetapi bisa tidak berurutan.
Mark Knapp menyebut tahap-tahap hubungan interpersonal sebagai berikut:
1.     inisiasi;
2.    eksperimen;
3.    intensifikasi;
4.    integrasi; dan
5.    pertalian atau ikatan. Tahap-tahap ini tidak harus terjadi pada setiap hubungan interpersonal.
Mengenai tahap-tahap tersebut, Jalaluddin Rakhmat menyimpulkan bahwa perkembangan hubungan interpersonal melalui tiga tahap:
1.     pembentukan hubungan;
2.    peneguhan hubungan; dan
3.    pemutusan hubungan.
Apabila dalam hubungan interpersonal terjadi konflik, akibat yang mungkin terjadi adalah berakhirnya hubungan interpersonal atau sebaliknya, meningkatnya kualitas hubungan. R.D. Nye, mengemukakan lima sumber konflik, yaitu:
1.     kompetisi;
2.    dominasi;
3.    kegagalan;
4.    provokasi; dan
5.    perbedaan nilai.
Dalam hubungan interpersonal, akan tumbuh apa yang dinamakan pola-pola relasional sebagai hasil dari aturan yang dikembangkan oleh partisipan bagimana pola-pola relasional ini berkembang akan tergantung pada bagaimana komunikasi dilakukan. Ruben menyebut
kan ada empat pola relasional:
1.     suportif dan defensif;
2.    tergantung (dependent) dan tidak bergantung (independent);
3.    kegagalan;
4.    provokasi; dan
5.    perbedaan nilai.
Dalam hungan interpersonal, akan tumbuh yang dinamakan pola-pola relasional sebagai hasil dari aturan yang dikembangkan oleh partisipan. Bagaimana pola-pola relasional ini berkembang akan tergantung pada bagimana komunikasi dilakukan. Ruben menyebutkan ada empat pola relasional:
1.     uportif dan defensif;
2.    tergantung (dependent) dan tidak bergantung (independent),
3.    progresi dan regresif;
4.    self-fulfilling dan self defeating prophecies.
Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola hubungan interpersonal, menurut Ruben adalah:
1.     tingkat hubungan dan konteks;
2.    kebutuhan interpersonal dan gaya komunikasi;
3.    kekuasaan;
4.    konflik.
Sedang Jalaluddin Rakhmat mengemukakan tiga faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal, yaitu
1.     percaya diri;
2.    ikap; dan
3.    ikap terbuka

Catatan Kuliah Sikap dan Perilaku


SIKAP (ATTITUDE)
Sikap:- suka

mendekat, mencari tahu, bergabung- tidak suka

menghindar, menjauhi
Definisi:
1. berorientasi kepada responsikap  adalah  suatu  bentuk  dari  perasaan,  yaitu  perasaan  mendukung  atau  memihak (
favourable)
maupun perasaan tidak mendukung
(Unfavourable)
pada suatu objek 2. berorientasi kepada kesiapan responYaitu  sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-caratertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.Yaitu suatu pola perilaku, tendenasi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri darisituasi sosial yang telah terkondisikan.3. berorientasi kepada skema triadik Yaitu sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yangsaling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek dilingkungan sekitarnya.Secara sederhana sikap didefinisikan :
Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal.
Contoh sikap dalam kehidupan sehari-hari pada yaitu iklan, parpol, opini
Pembentukan Sikap
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap:1. Pengalaman pribadi

Dasar pembentukan sikap: pengalaman pribadi harus meninggalkan kesanyang kuat

Sikap mudah terbentuk jika melibatkan faktor emosional2. Kebudayaan

Pembentukan sikap tergantung pada kebudayaan tempat individu tersebut dibesarkan

Contoh pada sikap orang kota dan orang desa terhadap kebebasan dalam pergaulan
3.
Orang lain yang dianggap penting (
Significant Otjhers)
http://htmlimg1.scribdassets.com/4b9r0e4xa8va6xc/images/6-cf91bbe0e0.pnghttp://htmlimg1.scribdassets.com/4b9r0e4xa8va6xc/images/6-cf91bbe0e0.png
 

yaitu: orang-orang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah lakudan opini kita, orang yang tidak ingin dikecewakan, dan yang berarti khususMisalnya: orangtua, pacar, suami/isteri, teman dekat, guru, pemimpin

Umumnya individu tersebut akan memiliki sikap yang searah (konformis) denganorang yang dianggap penting.4. Media massa

Media massa berupa media cetak dan elektronik 

Dalam penyampaian pesan, media massa membawa pesan-pesan sugestif yang dapatmempengaruhi opini kita

Jika pesan sugestif yang disampaikan cukup kuat, maka akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal  hingga membentuk sikap tertentu

5.  Institusi / Lembaga Pendidikan dan Agama

Institusi yang berfungsi meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diriindividu

Pemahaman baik dan buruk, salah atau benar, yang menentukan sistem kepercayaanseseorang

hingga ikut berperan dalam menentukan sikap seseorang6. Faktor Emosional

Suatu sikap yang dilandasi oleh emosi yang fungsinya sebagai semacam penyaluranfrustrasi atau pengalihan bentuk mekanisime pertahanan ego.

Dapat bersifat sementara ataupun menetap (persisten/tahan lama)

Contoh: Prasangka (sikap tidak toleran, tidak fair)
Teori Tentang Sikap
1. Teori Keseimbangan- Fokus: upaya individu untuk tetap konsisten dalam beersikap dalam hidup- Teori keseimbangan dalam bentuk sederhana:- Melibatkan hubungan-hubungan antara seseorang dengan dua objek sikap. Ketigaelemen tersebut dihubungkan dengan:a. Sikap favorable (baik, suka, positif)b. Sikap unfavorable (buruk, tidak suka, negatif)- Pembentukan sikap tersebut dapat dapat seimbang atau tidak seimbang- Hubungan afeksi dapat menghasilkan sistem yang tidak seimbang menjadi seimbang.2. Teori Konsistensi Kognitif-Afektif - Fokus: bagaimana seseorang berusaha membuat kognisi mereka konsisten denganafeksinya
 
- Penilaian seseorang terhadap suatu kejadian akan mempengaruhi keyakinannya.- Contoh: tidak jadi makan di restoran X karena temannya bilang bahwa restoran tersebuttidak halal padahal dia belum pernah makan disana3. Teori Ketidaksesuaian (
Dissonance Theory)
-  Fokus:  individu;  menyelaraskan  elemen-elemen  kognisi,  pemikiran  atau  struktur (Konsonansi : selaras).- Disonansi : ketidakseimbangan, yaitu pikiran yang amat menekan dan memotivasiseseorang untuk memperbaikinya.- Terdapat dua elemen kognitif; dimana disonansi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menggangu logika dan pengharapan-  Misalnya:  ”Merokok  membahayakan  kesehatan”  konsonansi  dengan  ”saya  tidak merokok”; tetapi disonansi dengan ”perokok”.- Cara mengurangi Disonansi:a. Merubah salah satu elemen kognitif, yaitu dengan mengubah sikap agar sesuaidengan perilakunya. Misalnya : stop merokok b. Menambahkan satu elemen kognitif baru. Misalnya: tidak percaya rokok merusak kesehatan4. Teori Atribusi-  Fokus:  individu  mengetahui  akan  sikapnya  dengan  mengambil  kesimpulan  dariperilakunya sendiri dan persepsinya tentang situasi.- Implikasinya  adalah perubahan  perilaku yang dilakukan  seseorang menimbulkankesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.-
Contoh: memasak setiap ada kesempatan baru sadar kalau dirinya suka menyukai / hobi memasak




Karakteristik Sikap dan Perilaku

Sikap dapat pula diklasifikasikan menjadi sikap individu dan sikap
sosial (Gerungan, 2000). Sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara
kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial, dan
biasanya dinyatakan oleh sekelompok orang atau masyarakat. Sedang sikap
individu, adalah sikap yang dimiliki dan dinyatakan oleh seseorang.
Sikap seseorang pada akhirnya dapat membentuk sikap sosial, manakala
ada seregaman sikap terhadap suatu obyek. Dalam konteks pemahasan ini,
sikap yang dimaksud adalah sikap individual, mengingat pendidikan yang
dihabahas dalam kajian ini menyangkut proses pendidikan secara
individual, mengingat keinginan, kebutuhan, kemampuan, motivasi,
sasaran didik sangat beragam. Untuk kajian lebih lanjut, periksa pada
bahasan proses pendidikan bisnis di bawah.


Sejalan dengan pengertian sikap yang dijelaskan di atas, dapat dipahami
bahwa:
1) sikap ditumbuhkan dan dipelajari sepanjang perkembangan orang
yang bersangkutan dalam keterkaitannya dengan obyek tertentu,

2) sikap merupakan hasil belajar manusia, sehingga sikap dapat ditumbuhkan dan
dikembangkan melalui proses belajar,

3) sikap selalu berhubungan dengan obyek, sehingga tidak berdiri sendiri,
4) sikap dapat berhubungan dengan satu obyek, tetapi dapat pula berhubungan dengan sederet obyek sejenis,

5) sikap memiliki hubungan dengan aspek motivasi dan perasaan
atau emosi (Gerungan, 2000).


Mengetahui karakter sikap semacam ini
sangat penting manakala kita akan membahas sikap secara cermat. Dari
sifat ini dapat diketahui bahwa sikap dapat ditumbungkan dan
dikembangkan, melalui proses pembelajaran siswa yang sesuai dengan
motivasi, dan keinginan mereka. Demikian juga, sikap harus diarahkan
pada suatu obyek tertentu, sehingga memudahkan mengarahkan belajar

siswa pada sasaran belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya